Pemerintah

80 Tahun Merdeka, Daftar Kabupaten Miskin RI

Meskipun Indonesia merayakan kemerdekaan ke-80, banyak kabupaten di Papua, Jawa, dan Sulawesi masih hadapi kemiskinan ekstrem. Data ini menyoroti ironi pembangunan.

80 Tahun Merdeka, Daftar Kabupaten Miskin RI

80 Tahun Merdeka di Tengah Banyaknya Kabupaten Miskin

Saya sejak 1 Agustus sudah mengibarkan bendera merah putih di depan rumah. Tinggal menunggu waktu untuk berdiri  selama 3 menit, dari pukul 10.17 hingga 10.20 WIB sebagai penghormatan pada Hari Kemerdekaan RI ke-80. Merdeka...! Apakah benar kita merdeka? Nyatanya, masih banyak kabupaten miskin di negeri ini. Mari kita ungkap sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Hari ini, 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan RI ke-80. Delapan dekade merdeka. Tapi, entah kenapa masih banyak rakyatnya yang merdeka dari nasi. Kita sudah punya gedung pencakar langit, jalan tol, MRT, bahkan wacana pindah ibu kota ke hutan, tapi di beberapa kabupaten, isi dapur rakyat masih level “mie rebus separuh bumbu”.

Mari kita tur keliling negeri, edisi “Tour de Miskin Indonesia”.

Di Papua, angka kemiskinan bikin Excel panas. Kabupaten Intan Jaya mencatat 40,01 %, Deiyai 38,66 %, Nduga 37,09 %, Supiori 36,99 %, Lanny Jaya 36,94 %, Puncak 36,44 %, Puncak Jaya 35,60 %, Paniai 35,39 %, Jayawijaya 34,71 %, sampai Pegunungan Arfak di Papua Barat 32,29 %. Angkanya bikin kita bertanya, ini data kemiskinan atau skor ujian nasional zaman dulu? Hampir semua dapat nilai di atas 30! “Kok bisa miskin? Padahal Papua itu kekayaannya sangat luar biasa.”

Geser ke Jawa Timur, Pulau yang katanya paling ramai dan makmur. Nyatanya, Sampang mencatat 20,83 % warga miskin, Bangkalan 18,66 %, Sumenep 17,78 %, Probolinggo 16,45 %, Tuban 14,36 %, Ngawi 13,81 %. Jadi jangan salah, Madura ini bukan cuma dikenal sate dan karapan sapinya, tapi juga kandidat kuat juara liga kemiskinan nasional.

Kalau Jawa Tengah, jangan salah kira. Kebumen dengan santai duduk di puncak kemiskinan 15,71 %, disusul Brebes 15,6 %, lalu Wonosobo 15,28 %. Jadi selain dikenal karena telur asin dan bawang merah, Brebes juga bisa jualan kemiskinan ke pasar nasional.

Di Sulawesi, giliran Pangkep (12,41 %), Jeneponto (11,82 %), Luwu (11,70 %), Enrekang (11,25 %), Luwu Utara (11,24 %), dan Kepulauan Selayar (10,79 %). Kalau ke Sulawesi Tengah, ada Tojo Una-Una (16,36 %), Donggala (15,30 %), Poso (14,23 %), Parigi Moutong (14,20 %). Lihat, namanya indah-indah, tapi persentase kemiskinannya seperti kode OTP yang bikin kepala pusing.

Nah, masuk ke Kalimantan, ternyata hutan luas tak menjamin isi dapur penuh. Di Kalbar, Melawi 10,62 %, Landak 8,98 %. Di Kalteng, Seruyan 7,08 %, Barito Timur 6,66 %, Murung Raya 6,58 %. Sementara di Kalsel, Hulu Sungai Tengah 5,81 %, HSU 5,75 %, Tabalong 5,64 %. Angkanya memang lebih kecil, tapi jangan salah, tetap cukup untuk bikin banyak orang lebih sering makan utang dari makan nasi.

Nah, inilah filsafat miskin ala kemerdekaan ke-80. Bangsa ini ternyata tidak hanya punya Garuda Pancasila, tapi juga punya Garuda Pusing-sila, karena rakyatnya masih setia bersila di lantai dapur kosong. Di satu sisi kita bangga punya kereta cepat, di sisi lain masih banyak kabupaten yang warganya berpikir keras, “Besok makan apa ya? Nasi atau mimpi?”

Ironinya, orang miskin itu jenius. Mereka bisa hidup dengan 20 ribu perak selama seminggu, sesuatu yang bahkan Elon Musk pun belum tentu bisa lakukan. Mereka ahli strategi, jago manajemen utang, dan master of surviving. Bedanya, kalau orang kaya bikin seminar motivasi, orang miskin bikin seminar di warung kopi dengan judul, “Cara Ngutang Tanpa Bikin Muka Malu.”

So, ketika hari ini bendera merah putih berkibar, kita teriak, “Merdeka!” Tapi mari tambahkan sedikit: “Merdeka… dari lapar!” Karena kalau kemerdekaan hanya berhenti di upacara, sementara rakyat di Intan Jaya, Sampang, atau Kebumen masih bingung isi piringnya, berarti kita cuma merayakan kemerdekaan dekoratif, cantik di foto, tapi kosong di dapur.

Indonesia sudah 80 tahun merdeka, tapi ternyata kemiskinan masih jadi ibukota kedua setelah Jakarta. Pertanyaan pamungkasnya, apakah 20 tahun lagi, saat ulang tahun ke-100, kita masih akan menyebut Sampang, Intan Jaya, atau Tojo Una-Una sebagai “kabupaten termiskin”? Atau mereka sudah pindah status, naik kasta jadi “kabupaten lumayan miskin”?

Kalau jawabannya iya, maka sejarah kita bukan sedang ditulis, tapi sedang diulang-ulang kayak sinetron kejar tayang. Bedanya, yang jadi korban bukan artis, tapi rakyat miskin yang tetap setia ikut upacara sambil perut keroncongan.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80

#camanewak

Loading...
Baca Artikel Lain ...