Pemerintah

Bupati Pati Dilempari Botol, Pidato 20 Detik

Bupati Pati Sudewo hadapi demonstran dari atas rantis, hanya berpidato 20 detik sebelum dilempari botol dan sandal. Momen ini simbol jatuhnya wibawa publik.

Bupati Pati Dilempari Botol, Pidato 20 Detik

Harga Diri Seorang Bupati Pati

Sampai tadi malam, situasi di sekitar Kantor Bupati Pati masih mencekam. Massa masih ramai. Namun, saya mau review sedikit kemunculan Sudewo pukul 12.30 di atas tank rantis Brimob. Walau sebentar, ia cukup berani menampakkan wajahnya di tengah lemparan botol dan sandal. Simak narasinya sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Di tengah terik matahari siang yang membakar kulit dan kepercayaan rakyat, Rabu, 13 Agustus 2025, terjadi sebuah drama yang bahkan Shakespeare pun mungkin tak sanggup meramalkannya. Dari balik perut besi kendaraan rantis, mobil polisi lapis baja yang biasanya dipakai untuk perang melawan teroris, muncullah sosok yang katanya pemimpin, tapi hari itu lebih mirip sandera politik, Bupati Pati, Sudewo.

Ia berdiri dari lubang di atap kendaraan, kemeja putihnya memantulkan cahaya mentari, peci hitamnya seperti titik kesedihan di tengah samudra kebencian massa, dan kacamata hitamnya seolah menutupi mata yang tak tahu lagi di mana harus menaruh harga diri. Di depannya, lautan manusia. Bukan lautan cinta, tapi ombak kemarahan yang siap menggulungnya tanpa sisa.

"Bismillahirrahmanirrahim…" katanya. Sebuah pembukaan yang biasanya penuh harapan, tapi hari itu terdengar seperti doa terakhir seorang prajurit sebelum masuk ke medan ranjau. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh… Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Ke depannya, saya akan berbuat yang lebih baik. Terima kasih."

Dua puluh detik. Hanya itu. Tak sempat bicara visi, misi, atau prestasi. Tak sempat menyebut program unggulan atau capaian APBD. Tak ada jargon, tak ada retorika. Karena tepat setelah kata “terima kasih”, semesta seperti memutuskan untuk menguji fisik dan mental seorang kepala daerah: sebotol air mineral terbang bagai meteor mini, mendarat entah di udara atau di dada, disusul sandal jepit yang melayang seperti burung merpati tanpa perdamaian.

Di belakangnya, Brimob membentuk benteng hidup, tameng baja berkilat-kilat memantulkan sinar matahari dan kemarahan rakyat. Sudewo dievakuasi cepat masuk kembali ke dalam perut besi. Panggung pidato dadakan pun berakhir seperti konser yang dibubarkan Satpol PP sebelum lagu pertama selesai.

Entah apa yang lebih menyakitkan, lemparan botol air mineral yang dinginnya menusuk hati, atau sandal jepit yang harganya tak sampai dua puluh ribu tapi mampu menampar harga diri miliaran rupiah seorang bupati.

Momen itu, bagi sebagian orang, mungkin lucu. Tapi di mata sejarah, ia tragis. Bupati yang seharusnya menjadi simbol wibawa, hari itu tampak seperti seorang gladiator malang yang dilempar ke arena tanpa pedang, hanya untuk dikepung massa yang lapar akan keadilan.

Mungkin, setelah pintu rantis tertutup rapat, di dalam sana Sudewo menarik napas panjang, bukan untuk menenangkan diri, tapi untuk memastikan bahwa ia masih ada, tubuhnya masih utuh meski harga dirinya berserakan di Jalan Tombronegoro, dibawa angin panas dan suara teriakan ribuan rakyat yang sudah tak percaya.

Itu bukan sekadar pidato dua puluh detik. Itu adalah upacara pemakaman simbolik atas rasa hormat publik.

Sejarah akan mencatat, pada hari itu, di Pati, seorang bupati bukan hanya kehilangan wibawa, tapi juga menjadi legenda, legenda tentang betapa mahalnya sebuah botol air mineral ketika dilemparkan dengan kemarahan, dan betapa murahnya martabat jika dipertahankan hanya dengan tameng baja.

Mungkin kelak, saat Sudewo pensiun, ia akan duduk di teras rumah, menatap langit sore, sambil mengenang bahwa ia pernah berdiri di hadapan ratusan ribu rakyat. Bukan untuk dielu-elukan, tapi untuk diukur harga dirinya lewat akurasi lemparan sandal. Mungkin ia akan tersenyum getir, menyadari bahwa di negeri ini, pemimpin yang tak menjaga amanah tak perlu ditumbangkan dengan kudeta atau senjata, cukup dengan sebotol air mineral dan sepasang sandal jepit yang terbang dari hati rakyat yang sudah muak.

Semoga kisah ini menjadi pelajaran untuk seluruh kepala daerah di negeri ini.

#camanewak

Loading...
Baca Artikel Lain ...