Pemerintah

Fahri Hamzah Akui Kinerja Kementerian PKP Nol

Wakil Menteri PKP, Fahri Hamzah, secara terbuka akui kinerja kementeriannya "nol", menyoroti fokus pada CSR daripada tugas inti renovasi rumah dan penataan kawasan.

Fahri Hamzah Akui Kinerja Kementerian PKP Nol

Fahri Hamzah, Wamen Jujur Akui Kinerja Kementeriannya Nol

Mencari pejabat jujur itu susah, wak! Kalau cari yang pintar, melonggok, kata budak Pontianak. Walau susah, ada juga yang jujur. Namanya, Fahri Hamzah, Wamen Kementerian PKP. Dengan gentlemen, ia akui kinerja PKP, nol. Mari kita kulik kejujuran mantan aktivis ini sambil seruput kopi tanpa gula.

Ada pepatah lama yang mengatakan, “Kalau tak bisa jadi lilin, jangan pula jadi pemadam.” Tetapi rupanya di Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), mereka memilih jadi lilin… yang bahkan belum dinyalakan. Dalam sejarah birokrasi modern, jarang sekali ada pejabat yang berani mengaku dirinya gagal. Tapi seperti dalam novel-novel tragikomedi yang kita baca sambil makan mi instan, muncullah dua tokoh: Joao Angelo, mantan Dirut Agrinas, yang mundur karena merasa tak becus, dan kini Fahri Hamzah, Wakil Menteri PKP, yang dengan penuh keyakinan berkata, “Kinerja kami? Nol.”

Ya, nol. Kosong. Nada. Seperti ujian matematika yang jawabannya semuanya salah, atau saldo rekening di akhir bulan setelah gajian lewat di tanggal lima.

Fahri Hamzah tidak sekadar melempar kritik, ia membangun monumen retorika dengan kata-kata itu. Menurutnya, kementerian ini terlalu sibuk mengurus CSR (Corporate Social Responsibility), semacam pesta amal bergaya korporasi, dari mengerjakan tugas inti:

- Merenovasi rumah warga yang hampir roboh.

- Menata kawasan permukiman yang sudah seperti labirin pos ronda.

- Menyediakan PSU (Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum) yang kadang cuma ada di proposal PowerPoint.

Bayangkan, kementerian yang seharusnya jadi tukang siaga untuk rakyat justru berubah jadi event organizer CSR. Mereka memikirkan sponsor, backdrop, dan souvenir, sementara genteng rumah rakyat terbang bebas ditiup angin malam.

Secara filosofis, “nol” ini menarik. Nol adalah angka sempurna dalam ketiadaan. Nol adalah lingkaran utuh tanpa awal dan akhir. Di tangan Fahri Hamzah, nol menjadi pedang sakti untuk menebas ilusi kinerja. Jika biasanya pejabat menyembunyikan kegagalan di balik jargon progress sedang berjalan, Fahri memilih jalan ninja, mengaku telanjang di tengah rapat, metaforis tentunya.

Namun, nol ini bukanlah nol matematika murni. Ia adalah nol politis, angka yang berdenyut dengan frustrasi, sindiran, dan mungkin sedikit keinginan untuk meledakkan meja birokrasi. Sebab kalau benar kementerian lebih sibuk CSR dari tugas pokok, berarti mereka telah menjadikan rumah rakyat sebagai properti latar belakang untuk sesi foto Instagram.

Lihatlah, program renovasi rumah rakyat tidak bergerak, penataan kawasan berjalan lambat, PSU seperti menunggu zaman batu kedua. Sementara itu, dalam acara CSR, senyum pejabat merekah, kamera berkilat, dan piagam penghargaan dibagikan. Bukankah ini indah? Indah seperti mimpi yang tak pernah bangun.

Jika Joao Angelo adalah tokoh yang memilih turun panggung karena merasa gagal, Fahri Hamzah adalah pemain yang berdiri di tengah panggung, memegang mikrofon, lalu berteriak ke penonton: “Lihat! Ini panggung kosong!” Bedanya, Joao turun dengan sunyi, Fahri mengubah sunyi menjadi gong raksasa yang menggetarkan dinding-dinding kementerian.

Ironisnya, di tengah pengakuan dramatis ini, publik mungkin terbelah. Ada yang memuji kejujurannya, ada yang mencibir “Lha, kalau nol, kenapa nggak mundur sekalian?” Tapi mungkin justru di sinilah strateginya. Politisi Gelora ini ingin nol itu berubah menjadi angka satu, dua, atau bahkan seratus, setidaknya sebelum tahun anggaran tutup.

Seperti kisah wayang modern, kita menunggu babak selanjutnya. Apakah pengakuan ini akan jadi awal reformasi, atau justru bab pertama dari serial panjang Kementerian Nol Season 2? Karena di negeri ini, nol sering kali bukan akhir, tapi awal dari angka-angka baru… yang entah nyata atau hanya di atas kertas.

#camanewak

Loading...
Baca Artikel Lain ...