Politik

Herman Hofi: Membangun Pontianak Tak Cukup Hanya Beton

Pengamat hukum Dr. Herman Hofi Munawar tekankan pentingnya pembangunan mentalitas dan kemandirian masyarakat dalam dialog LPM Kota Pontianak.

Herman Hofi: Membangun Pontianak Tak Cukup Hanya Beton

Pontianak – Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kota Pontianak menggelar dialog terkait upaya peningkatan pemberdayaan masyarakat di Kota Pontianak. Kegiatan ini dihadiri berbagai unsur penting daerah, mulai dari Wali Kota Pontianak, Kapolresta Pontianak, para camat, lurah se-Kota Pontianak, hingga tokoh masyarakat.

Salah satu peserta yang turut hadir dalam dialog tersebut adalah pengamat hukum dan kebijakan publik, Dr. Herman Hofi Munawar. Kepada awak media, ia menyampaikan pandangannya mengenai arah pembangunan Kota Pontianak yang dinilai tidak hanya fokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga pembangunan mentalitas masyarakat.

Menurut Herman, saat ini Pontianak tengah bergerak menuju perubahan yang lebih luas melalui visi “Menenun Asa”, yang menjadi semangat pemerintah kota bersama masyarakat untuk mewujudkan Pontianak Hebat. “Pembangunan kota tidak cukup hanya dengan beton dan aspal. Yang paling penting adalah pembangunan manusianya. Kemandirian masyarakat harus menjadi fondasi utama agar Pontianak mampu bersaing di tengah perkembangan ekonomi global dan pesatnya kemajuan teknologi,” ujarnya.

Ia menilai tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut masyarakat Pontianak untuk tidak hanya menjadi penonton di kota sendiri. Karena itu, konsep pemberdayaan masyarakat kini menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar slogan seremonial tanpa makna. Menurut Herman, pemberdayaan masyarakat berarti mengubah pola pikir warga dari ketergantungan menuju kemandirian. Potensi yang selama ini tersembunyi harus mampu diubah menjadi kekuatan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat luas. “Yang terpenting adalah bagaimana kita mengoptimalkan sumber daya yang ada dengan inovasi. Bukan hanya bekerja keras, tetapi bekerja dengan arah yang jelas,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan keterampilan dan kapasitas masyarakat agar warga mampu berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi maupun sosial. Selain itu, masyarakat juga harus ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek dari kebijakan pemerintah. Dialog yang digelar LPM ini dinilai menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai gagasan dari banyak pihak. Akademisi menghadirkan inovasi, pemerintah merumuskan kebijakan, sektor swasta memberikan dukungan, dan masyarakat menghadirkan kearifan lokal.

Di lapangan, geliat pemberdayaan mulai terlihat. Pelaku UMKM di berbagai gang kecil di Pontianak mulai berkembang dengan peningkatan kualitas produk dan standar usaha yang lebih baik. Selain itu, pertumbuhan kafe dan warung makan juga semakin marak sebagai bagian dari dinamika ekonomi kota. Tak hanya itu, kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan melestarikan budaya lokal juga semakin meningkat. Hal ini menjadi bagian penting dari identitas Kota Pontianak sebagai kota yang berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal.

Herman menegaskan bahwa kejayaan Pontianak di masa depan tidak diukur dari megahnya gedung-gedung tinggi, melainkan dari seberapa berdaya dan sejahtera masyarakatnya. Dengan semangat gotong royong, cita-cita Pontianak Hebat perlahan mulai menjadi kenyataan yang dibangun bersama oleh pemerintah dan masyarakat. “Sering kita dengar sapaan ‘Apa kabar, Budak Pontianak?’ Itu bukan sekadar basa-basi, tapi panggilan bagi seluruh warga untuk bergerak bersama membangun kota ini,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa keberadaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat memiliki peran yang sangat strategis sebagai mitra pemerintah kota dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat. Karena itu, sinergi antara LPM dan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di Kota Pontianak menjadi kunci penting dalam memperkuat fondasi pembangunan masyarakat ke depan.

M. Hasanuddin
M. Hasanuddin

Jurnalis

Advertisement
Loading...
Baca Artikel Lain ...