Marina Budiman: Kisah 'Ratu Data', Wanita Terkaya Indonesia Versi Forbes 2025
Selami kisah inspiratif Marina Budiman, 'Ratu Data' dan wanita terkaya di Indonesia versi Forbes 2025. Dari pendiri Indonet hingga DCI Indonesia, simak perjalanan bisnis teknologi dan kekayaannya yang mencapai Rp87 triliun.

Setelah kemarin kita membahas sosok wanita tajir melintir, Liana Jhonlin Saputri, yang bahkan mampu mengakuisisi 15 persen saham KFC—meski banyak komentar negatif dari netizen, saya pribadi sih paham betul alasannya—kali ini giliran saya memperkenalkan wanita paling kaya di negeri ini. Ia dijuluki 'Ratu Data.' Mari kita selami kisahnya sambil menikmati kopi tanpa gula, yuk!
Dunia ini seolah sudah terlalu lama didominasi oleh mereka yang, jika komputer bermasalah, solusi satu-satunya hanyalah mencabut dan menancapkan kembali kabel dengan wajah bingung. Tapi Marina Budiman? Ia tak sibuk dengan kabel; ia justru 'menancapkan' masa depan. Jika Elon Musk berambisi membawa manusia ke Mars, Marina justru membawa kita semua masuk ke 'awan' digital. Bedanya, yang satu memakai roket, Marina mengandalkan server.
Lahir tepat pada 31 Desember 1960, saat dunia bersiap menyambut tahun baru dan bayi-bayi lain sibuk menangis di rumah sakit, Marina justru seolah sudah menyusun cetak biru takdirnya sendiri. Ia kini dinobatkan sebagai perempuan terkaya di Indonesia versi Forbes 2025. Kekayaannya? Fantastis, sekitar US$5,3 miliar, atau setara dengan Rp87 triliun. Bayangkan saja, jika Anda menabung seribu rupiah setiap hari, Anda mungkin baru bisa menyamai kekayaannya saat semesta ini sudah pensiun dan dinosaurus kembali menggelar tur dunia.
Namun, Marina tidak terlahir dari keluarga sultan, pun bukan keturunan 'raja data' yang sudah mapan. Ia hanyalah seorang perempuan cerdas yang menempuh pendidikan Ekonomi dan Keuangan di University of Toronto, lulus pada tahun 1985. Ketika sebagian dari kita mungkin masih berkutat dengan 'Excel error #VALUE!', Marina sudah sibuk membedah lembar kerja masa depan. Ia memulai karier sebagai bankir di Bank Bali, namun alih-alih terbuai dengan bunga deposito dan laporan keuangan, Marina justru terpikat erat pada dunia teknologi. Ia tidak hanya melihat angka, melainkan juga mendengar bisikan masa depan.
Kemudian, tibalah momen penting di tahun 1994, ketika Marina turut mendirikan Indonet, penyedia layanan internet pertama di Indonesia. Ingat, ini adalah era di mana banyak orang masih kesulitan membedakan antara mouse komputer dan tikus sungguhan. Saat sebagian besar masyarakat masih sibuk menyalakan modem dengan 'mantra-mantra' agar terhubung, Marina sudah jauh di depan, merancang infrastruktur jaringan digital untuk negeri ini. Dulu, internet sering dianggap seperti 'hantu' yang tak kasat mata. Tapi Marina? Ia justru 'memelihara' hantu itu, lalu mengubahnya menjadi aset nasional yang berharga.
Pada tahun 2011, ia bersama partnernya, Otto Toto Sugiri, mendirikan DCI Indonesia Tbk. Ini bukan sembarang pusat data, melainkan fasilitas Tier IV pertama di Asia Tenggara. DCI bukan sekadar gudang penyimpanan data; ia adalah 'kuil' tempat segala jenis informasi—mulai dari file rahasia perusahaan, foto mantan yang mungkin masih tersimpan, strategi bisnis krusial, hingga meme TikTok terbaru—disimpan dengan tingkat keamanan yang saking canggihnya, bahkan bisa membuat CIA merasa iri.
Kini, DCI telah memiliki 7 pusat data yang tersebar di Cibitung, Karawang, dan Jakarta. Kapasitasnya luar biasa, hampir mencapai 1.000 megawatt, sebuah daya yang cukup untuk menyalakan seluruh kedai kopi susu di Jabodetabek, bahkan mungkin juga untuk mengalirkan energi bagi jutaan pikiran netizen yang sedang 'overthinking'.
Kekayaan Marina pernah mengalami penurunan drastis, anjlok hingga Rp57 triliun hanya dalam waktu 3 hari pada Maret 2025. Namun, Marina sama sekali tidak panik. Ia bukanlah pemain 'ecek-ecek' yang baru merintis bisnis tiga bulan sudah mengunggah status 'mental health break'. Marina sangat paham, bahwa jika ingin meraih kesuksesan, modalnya bukan hanya aplikasi desain grafis dan niat yang mudah goyah saat melihat diskon di e-commerce. Ia tetap berdiri tegak, bahkan ketika nilai sahamnya berayun tajam layaknya alur sinetron di jam tayang utama.
Marina Budiman bukan sekadar perempuan terkaya; ia adalah semacam 'tamparan digital' bagi mereka yang masih merasa bangga rebahan sambil melontarkan komentar nyinyir di media sosial. Di tengah dunia yang sibuk mengatur filter Instagram, Marina justru sibuk mengatur arsitektur data nasional. Saat sebagian dari kita asyik 'nge-like' kutipan-kutipan motivasi, Marina sudah mengubah kutipan-kutipan itu menjadi infrastruktur yang nyata.
Jadi, bagi Anda yang sering mengeluh 'ah, susah cari kerja' atau 'aku cuma manusia biasa', ingatlah Marina. Dia juga manusia biasa, namun ia memilih untuk tidak hidup biasa-biasa saja. Lantas, bagaimana dengan Anda? Masihkah menunggu sinyal sambil rebahan? Maka bangkitlah! Hidup Anda bukanlah modem yang bisa menunggu restart. Jadilah seperti Marina, sebuah 'server hidup' yang terus bekerja, bukan sekadar penonton yang menunggu 'loading'.
“Oh ya, kalau ada wanita terkaya, tentu ada juga yang termiskin, kan?” “Betul juga. Hanya saja, siapa wanita itu? Untuk sementara, saya belum bisa menjawabnya. Jangan-jangan, sosoknya justru ada di dekat kita.”
#camanewak
